Nude Photography Kontroversi Karya Fotografi

Nude Photography

Tidak sedikit yang menilai nude photography sebagai sebuah pornografi. Padahal, hal tersebut di zaman dahulu merupakan ketelanjangan yang bernilai seni. Banyak budaya yang menganggap hal tersebut bukanlah sesuatu yang tabu.

Gambar ketelanjangan tersebut dianggap memiliki nilai artistik tersendiri. Seiring berkembangnya zaman, banyak fotografer yang memiliki konsep foto baru menggunakan tubuh manusia. Objek foto berupa tubuh manusia ini rupanya juga banyak disukai para model untuk popularitas.

Pengertian

Nude Art

Nude fotografi merupakan jenis karya foto yang menggambarkan anggota tubuh manusia dalam keadaan telanjang. Sebenarnya, pemotretan yang dilakukan tidak memiliki unsur keerotisan sebuah objek. Tujuannya tak lain untuk mempelajari anggota tubuh manusia beserta maknanya.

Dalam dunia fotografi nude art masuk kedalam aliran fotografi telanjang atau sering disebut nude photography. Genre fotografi yang menampilkan tubuh manusia telanjang dengan menitik beratkan pada kualitas estetika.

Dalam jenis fotografi ini, titik fokus tidak selalu pada wajah. Selain itu, komposisi yang digunakan lebih banyak dieksplorasi pada latar belakang dan cahaya.

Sejarah Fotografi Nude

Foto Nude Art

Fotografi nude pada dasarnya memiliki sejarah tersendiri sampai akhirnya dianggap sebagai salah satu aliran fotografi. Meski di zaman dahulu nude art banyak diterima, namun pada awal kemunculannya ternyata tidak semulus yang dikira.

Terutama saat awal perkembangannya di wilayah Eropa dan Amerika. Oleh karena itu, simak ulasan mengenai sejarah fotografi nude berikut ini.

1. Potret Fotografi Pertama dari Seorang Manusia (1839)

Didiet Widianti dalam Nude Photography (2012) menyebutkan Robert Cornelius menjadi orang pertama yang mengambil potret diri dari seorang manusia. Tepatnya pada Oktober 1839 dan menjadi cikal bakal nude fotografi.

Setelah potret tersebut layak tayang, pembelajaran mengenai foto telanjang mulai dimuat. Salah satunya berupa foto gadis-gadis muda pada saat itu.

Seorang fotografer profesional memang tidak bisa menutup mata akan adanya jenis fotografi ini. Mengingat sebenarnya aliran nude art memiliki penggemarnya tersendiri. Namun di tanah air, peminat dan pelaku fotografi nude cenderung bersembunyi dan tidak menampakkan diri.

Hal ini dilakukan karena ketakutan akan sanksi dari negara yang terdapat hukum yang belum bisa membedakan antara seni dan pornografi. Belum lagi hukuman sosial yang akan datang dari masyarakat kepada pelaku nude art.

Hal ini terjadi pada model dan si fotografer yang mengambil gambar nude art tersebut. Kebanyakan masyarakat akan menganggapnya sebagai tindakan tidak etis dan sebagainya.

2. Felix-Jacques Moulin (1802-1875) Pelopor Nude Fotografi Prancis

Kesalah pahaman mengenai nude art dan pornografi pada dasarnya tidak hanya terjadi di Indonesia. Pada tahun 1851, Felix-Jacques Moulin dijebloskan ke penjara karena dianggap menjual dan membuat “benda cabul”.

Ia merupakan salah satu pelopor nude fotografi dari Perancis yang mendapatkan hukuman ini. Moulin dipenjara selama satu bulan dan dikenai denda sebesar 100 franc. Setelah itu, rekannya yang bernama Jules Malacrida juga dimasukkan ke dalam penjara selama satu tahun dan denda 500 franc.

Setelah Moulin bebas dari penjara, ia kembali membuat karya foto telanjang seorang wanita secara diam-diam. Ia pun memamerkan karyanya pada tahun 1855 di Pameran Universeller di Paris.

Ternyata karyanya mendapat pujian dan penghargaan dari para kritikus seni. Selain itu, karya Moulin juga menjadi pedoman bagi fotografer sesudahnya.

3. Edward Weston (1886-1906) Pelopor Fotografi Nude Amerika Modern

Edward Weston berasal dari Highland Park, Illinois merupakan seorang pelopor fotografi Amerika modern saat itu. Ia menghasilkan karya yang cukup banyak dari berbagai aliran fotografi. Weston juga merupakan fotografer nude fotografi yang berpengaruh.

Ia banyak menghasilkan karya yang mempengaruhi perkembangan foto nude art di Amerika. Pada awalnya, Edward Weston banyak mendapat cemoohan karena dianggap menghasilkan karya cabul. Namun akhirnya dunia mengakuinya dan karyanya menjadi populer.

4. Nude Fotografi sebagai Fotografi Modern

Perkembangan nude fotografi memang tidak bisa dilepas dari sejarah awalnya. Pada awalnya, karya yang dihasilkan memang tidak mendapat banyak dukungan. Terlebih hukum negara yang saat itu masih banyak yang belum membedakan antara pornografi dan karya seni.

Terlebih di negara ketimuran seperti Indonesia. Kebanyakan masih menganggap nude fotografi sebagai sesuatu yang tabu, bahkan menyamakannya dengan pornografi. Tak heran pelaku dan penggemar aliran ini cenderung tidak banyak melakukan publikasi.

Hal ini berbeda dengan jenis fotografi lainnya yang lebih bebas berekspresi. Walau bagaimanapun juga nude fotografi merupakan bagian dari fotografi modern saat ini. Terlebih perkembangan kamera digital yang sudah tidak tergantung pada film negatif atau klise lagi.

Fotografi nude lebih banyak menggunakan komposisi background dan pencahayaan yang artistik. Selain itu, jenis fotografi ini tidak hanya menjadikan wajah sebagai satu-satunya focus point.

Tidak sedikit pula nude fotografi dalam komposisi warna hitam dan putih saja. Karya tersebut memiliki nilai artistik tersendiri atas tampilan lekuk tubuh manusia.

Apakah Nude Fotografi Termasuk Pornografi?

fotografi telanjang

Secara umum, nude fotografi memiliki arti mengambil gambar manusia secara polos tanpa busana sehelai pun. Memotret nude art merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi fotografer. Sang fotografer mengambil foto dari model wanita atau pria tanpa menimbulkan nafsu dan birahi.

Pada intinya, hal tersebutlah yang harus dikuasai fotografer nude art. Ia harus menjadi orang yang paling memahami lekuk tubuh dari model nude. Bagaimana menjadikan aura keindahan lekuk tubuhnya si model tanpa menjadikannya karya yang mesum atau porno.

Tak heran jika menghasilkan foto nude art menjadi suatu perjuangan tersendiri bagi seorang fotografer.

Fotografi nude sering dipersepsikan sebagai bentuk pornografi, bukan sebuah karya seni. Pada dasarnya, tidak mudah menyamakan persepsi bahwa nude art adalah sesuatu yang bersifat porno. Hal ini dipengaruhi oleh pola pikir masyarakat itu sendiri.

Pola pikir tersebut dipengaruhi oleh komunitas, negara, dan budaya di tempat masyarakat tersebut berada. Tidak sedikit yang menilai karya fotografi nude merupakan pornografi, padahal art dan porn merupakan sesuatu yang berbeda.

Kontroversi Nude Photography

Nude Art Fotografi

Fotografi ini menampilkan lekukan tubuh manusia yang memiliki makna tersendiri. Tak jarang gambar yang dihasilkan pun mencurahkan isi hati si model.

Adanya pose polos (nude) ini tentunya menimbulkan pro dan kontra. Bagi pihak yang pro, membolehkan hal ini asalkan bersandar pada seni. Sedangkan penentang beranggapan hal tersebut tidak patut dan dianggap sebagai bentuk ekspresi yang kebablasan.

Pada dasarnya, fotografi nude tidak bisa digolongkan ke dalam kategori foto jurnalistik. Jadi, fotografi ini tidak melanggar kode etik jurnalistik. Sebagian fotografer menganggap nude art sebagai seni, namun tidak dengan masyarakat secara umum.

Selain itu, foto nude sebenarnya bersifat konsumsi terbatas. Terdapat kesepakatan tidak tertulis antara si model dan fotografer saat menjalani pemotretan. Jadi, sebuah nude art tidak bisa dibilang termasuk pornografi dan tidak etis. Mengingat hasil pemotretan tidak disebarluaskan kedua pihak.

Konsumsi gambar nude art bersifat terbatas dan terdapat perjanjian terhadap file foto tersebut. Selain itu, nude fotografi tidak terdapat unsur paksaan dan dilakukan dalam keadaan sadar.

Selama unsur tersebut dipenuhi dan tidak disebarluaskan bebas, foto nude pada dasarnya tidak termasuk pornografi.

Ulasan mengenai nude photography di atas semoga bisa menambah wawasan kita terhadap salah satu aliran fotografi ini. Meskipun kebanyakan masyarakat belum memahami perbedaannya dengan pornografi, nyatanya nude art masih berkembang hingga saat ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *